·
Definisi
Fisiologi
atau Ilmu Faal adalah salah satu dari cabang ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan. Istilah
"fisiologi" berasal dari bahasa Belanda, physiologie, yang dibentuk dari
dua kata Yunani Kuno,
yaitu physis yang berarti
"asal-usul" atau "hakikat" dan logia, yang berarti
"kajian". Istilah "faal" sendiri diambil dari bahasa Arab, berarti
"pertanda", "fungsi", "kerja". Sehingga fisiologi
adalah ilmu yang menggunakan berbagai metode untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara
keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.
Sedangkan Fisiologi Kerja merupakan suatu studi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja dan
kelelahan selama otot bekerja. Fisiologi
Kerja adalah ilmu yang mempelajari fungsi atau faal tubuh manusia pada saat
bekerja dan merupakan dasar berkembangnya ergonomi. Dengan diketahuinya
fisiologi kerja diharapkan mampu meringankan beban kerja seorang pekerja dan
meningkatkan produktivitas kerja.
·
Kerja
Fisik
Kerja
fisik atau physical work adalah kerja
yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber tenaga atau power. Kerja fisik sering disebut sebagai
“Manual Operation” di mana performansi kerja sepenuhnya akan tergantung pada manusia,
baik yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power)
ataupun pengendali kerja (control).
Dalam hal kerja fisik ini, konsumsi energi (energy
consumption) merupakan faktor utama dan tolak ukur sebagai penentu berat
atau ringannya kerja fisik tersebut.
Aktivitas
otot yang akan mengubah fungsi-fungsi faal dalah tubuh adalah sebagai berikut.
Ø Denyut
jangtung.
Ø Tekanan
darah.
Ø Keluaran
atau output jantung (liter darah/menit).
Ø Komposisi
kimia dalam darah dan tubuh.
Ø Temperatur
tubuh.
Ø Laju
penguapan.
Ø Ventilasi
paru-paru (liter darah/menit).
Ø Konsumsi
oksigen (O2) oleh otot.
Kerja fisik akan mengeluarkan energi yang berhubungan erat
dengan konsumsi energi. Setiap kegiatan yang berlangsung pada diri manusia
membutuhkan energi. Untuk melakukan semua kegiatan manusia diperlukan supplay energi. Energi terbentuk karena
adanya proses metabolisme dalam otot, yaitu berupa serangkaian proses kimia
yang mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk energi. Kedua bentuk energi
tersebut adalah energi mekanis dan energi panas. Konsumsi energi pada waktu
kerja biasanya ditentukan dengan cara tidak langsung, yaitu dengan 2 cara
sebagai berikut.
1. Pengukuran Kecepatan Denyut Jantung
Derajat beban kerja tidak hanya tergantung pada jumlah kalori
yang dikonsumsi, akan tetapi juga bergantung pada jumlah otot yang terlibat
pada pembebanan otot statis. Sejumlah konsumsi energi tertentu akan lebih berat
jika hanya ditunjang oleh sejumlah kecil otot relatif terhadap sejumlah besar
otot. Penlitian yang dilakukan oleh Astrand (1977) dan Christensen (1991) menemukan
bahwa pengeluaran energi dari tingkat denyut jantung dan menemukan adanya
hubungan langsung antara keduanya. Tingkat pulsa dan denyut jantung per menit
dapat digunakan untuk menghitung pengeluaran energi (Retno Megawati, 2003). Secara
lebih luas dapat dikatakan bahwa kecepatan denyut jantung dan pernapasan
dipengaruhi oleh tekanan fisiologis, tekanan oleh lingkungan, atau tekanan
akibat kerja keras, di mana ketiga faktor tersebut memberikan pengaruh yang
sama besar. Pengukuran berdasarkan kriteria fisiologis ini bisa digunakan
apabila faktor-faktor yang berpengaruh tersebut dapat diabaikan atau situasi
kegiatan dalam keadaan normal.
Pengukuran
denyut jantung dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Merasakan denyut jantung yang ada pada arteri radial pada pergelangan
tangan.
2. Mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop.
3. Menggunakan ECG (Electrocardiograph),
yaitu mengukur signal elektrik yang diukur dari otot jantung pada permukaan
kulit dada.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peran yang sangat penting
didalam peningkatan cardio output dari istirahat samapi kerja maksimum (Rodahl,
1989), didefinikan sebagai Heart Rate Reserve (HR Reserve). HR Reserve tersebut
diekspresikan dalam presentase yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut.
Lebih lanjut, penentuan klasifikasi beban kerja berdasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasiculair atau %CVL) yang dihitung berdasarkan rumus di bawah ini (Manuaba dan Vanwonterghem, (1996).
Di mana denyut nadi maskimum adalah 220 dikurangi usia untuk
laki-laki dan 200 dikurangi usia untuk wanita. Dari perhitungan %CVL tersebut, kemudian
akan dibandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut.

Bentuk regresi hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung secara umum adalah regresi kuadratis dengan persamaan sebagai berikut.

Bentuk regresi hubungan energi dengan kecepatan denyut jantung secara umum adalah regresi kuadratis dengan persamaan sebagai berikut.
Di mana,
Y : Energi (kilokalori/kkal per menit).
X : kecepatan denyut jantung (denyut per menit).
Setelah besaran kecepatan denyut jantung disetarakan dalam
bentuk energi, maka konsumsi energi untuk kegiatan kerja tertentu dapat
dituliskan dalam bentuk energi, maka konsumsi energi untuk kegiatan kerja
tertentu dapat dituliskan dalam bentuk sebagai berikut.
Di mana,
KE : Konsumsi energi untuk suatu kegiatan kerja tertentu (kkal
/ menit).
Et : Pengeluaran energi pada saat waku kerja tertentu (kkal /
menit).
Ei : Pengeluaran energi pada saat waktu istirahat (kkal /
menit).
Jika denyut jantung dipantau selama istirahat, maka waktu
pemulihan untuk beristirahat meningkat sejalan dengan beban kerja. Dalam
keadaan yang ekstrim, pekerja tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup
sehingga mengalami kelelahan yang kronis. Formulasi untuk menentukan waktu istirahat
(Time Rest) sebagai kompensasi dari pekerjaan fisik adalah sebagai berikut.
Di mana,
TR = Waktu istirahat yang dibutuhkan (menit).
T = Total waktu kerja (menit).
S = Pengeluaran energi cadangan yang direkomendasikan (kkal /
menit), biasanya 4 atau 5 kkal / menit.
K= konsumsi energi selama pekerjaan
berlangsung (kkal/mnt).
Sedangkan rumus untuk mengukur waktu kerja (Time Work)
sendiri adalah sebagai berikut.
TK = Waktu kerja (menit).
K= konsumsi energi selama pekerjaan
berlangsung (kkal/mnt).
2. Pengukuran Konsumsi Oksigen (O2)
Besarnya pengeluaran energi sebagai akibat kerja fisik sangat
berkaitan dengan konsumsi energi. Satuan pengukuran konsumsi energi adalah
kilokalori (kkal). 1 kkal sama dengan jumlah panas yang dibutuhkan untuk
menaikkan tempertaur 1 liter air dari 14,5°C
menjadi 15,5°C. Energi yang
dikonsumsikan seringkali bisa diukur secara langsung yaitu melalui konsumsi
oksigen (O2) yang dihisap. Volume oksigen yang dibutuhkan saat bekerja
dapat dipakai sebagai dasar menentukan jumlah kalori yang diperlukan selama
kerja, 1 liter oksigen sama dengan 4,7–5 Kkal (McCormick).Pendapat lain
mengatakan, 1 liter oksigen dikonsumsi oleh tubuh, maka tubuh akan mendapatkan
4,8 KKal energi yang merupakan nilai kalori suatu oksigen (Nurmianto). Volume
oksigen yang digunakan tersebut dihitung dengan cara mengukur volume udara
ekspirasi dan kemudian kadar oksigennya ditentukan dengan teknik sampling. Dengan
mengetahui temperatur dan tekanan udaranya, maka volume oksigen yang digunakan
dapat dihitung.
Proses
metabolisme yang terjadi dalam tubuh manusia merupakan fase yang penting
sebagai penghasil energi yang diperlukan untuk kerja fisik. Proses metabolisme
ini bisa dianalogikan dengan proses pembakaran yang kita jumpai dalam mesin
motor bakar (combustion engine).
Lewat proses metabolisme akan dihasilkan panas dan energi yang diperlukan untuk
kerja mekanis lewat sistem otot manusia. Di sini zat-zat makanan akan
bersenyawa dengan oksigen (O2) yang dihirup, terbakar dan
menimbulkan panas serta energi mekanik.
Proses Metabolisme Dalam Tubuh Manusia
Ø Usia
Kecepatan metabolisme
memang berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.
Ø Jenis Kelamin
Wanita memiliki
metabolisme yang lebih rendah daripada pria. Rata-rata pria memiliki proporsi
tulang, organ, dan otot yang lebih besar dibandingkan wanita. Jadi tak heran
jika metabolisme pria pun lebih besar.
Ø Komposisi
Tubuh Orang dengan
berat badan normal dan memiliki banyak otot mempunyai metabolisme yang lebih
tinggi dibandingkan orang gemuk yang memiliki banyak lemak.
Ø Iklim
Orang yang hidup di
daerah tropis memiliki metabolisme 10% lebih rendah dibandingkan orang yang
hidup di daerah sub tropis.
Ø Gizi
Keadaan gizi buruk yang berkepanjangan akan mengurangi
metabolisme 10-20%.
Ø Tidur
Saat tidur, metabolisme akan 5% lebih rendah dibandingkan
saat bangun.
Ø Demam
Karena panas dapat
mempercepat suatu reaksi kimia, apabila tubuh sedang demam, maka kecepatan
metabolisme akan meningkat. Salah satu tujuan dari meningkatnya metabolisme
adalah untuk mempercepat perbaikan sel-sel yang rusak dan mempercepat proses
penyembuhan.
Ø Hormon dan Obat-obatan
Ada hormon dan
obat-obatan yang bekerja untuk mempercepat metabolisme, namun ada juga yang
bekerja memperlambat metabolisme.
Ø Aktivitas Fisik
Semakin banyak dan semakin berat
aktivitas seseorang, maka akan semakin tinggi pula metabolismenya.
·
Kerja Mental
Kerja
mental merupakan kerja yang melibatkan proses berpikir dari otak kita.
Pekerjaan ini mengakibatkan kelelahan mental bila intensitas kerja ini relatif
tinggi. Hal ini bukan diakibatkan oleh aktifitas fisik secara langsung,
melainkan akibat kerja otak kita.
Beban kerja mental merupakan perbedaan antara tuntutan kerja
mental dengan kemampuan mental yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan.
Beban kerja yang timbul dari aktivitas mental di lingkungan
kerja antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
Ø Keharusan untuk tetap dalam kondisi kewaspadaan tinggi dalam
waktulama
Ø Kebutuhan untuk mengambil keputusan yang melibatkan tanggung
jawabbesar
Ø Menurunnya konsentrasi akibat aktivitas yang monoton
Ø Kurangnya kontak dengan orang lain, terutama untuk tempat
kerja yang terisolasi dengan orang lain.
Beban kerja mental dapat diukur dengan pendekatan fisologis, karena
terkuantifikasi dengan dengan kriteria obyektif, maka disebut metode obyektif.
Kelelahan mental pada seorang pekerja terjadi akibat adanya reaksi fungsional
dari tubuh dan pusat kesadaran. Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain
sebagai berikut.
Ø Pengukuran variabilitas denyut jantung.
Ø Pengukuran selang waktu kedipan mata (eye blink rate).
Ø Flicker Test.
Ø Pengukuran kadar asam saliva.





